AKADEMI SILAT SENI GERAK MAKRIFAT

AKADEMI SILAT SENI GERAK MAKRIFAT


ILMU PERSILATAN DAN PERUBATAN (KEROHANIAN) WARISAN SYEIKH PENDITA MAHAGURU ADI PUTRA, SUNAN KALIJAGA DAN TOKKU PALOH

ILMU KEROHANIAN DALAM KATEGORI ILMU GHAIB ( SILAT BATIN SUNAN KALIJAGA@GERAK FAQIR) & ILMU SYAHADAH (SYAHADAT TOKKU PALOH@TITIK 9)

Friday, December 9, 2011

ANTAHKARANA , MEDITASI, YOGA DAN REIKI

Mengenali jalur sinar ke-Tuhanan (Antahkarana)

Kita lahir ke dunia ini serta dapat hidup karena kita diberikan atman/roh oleh Siwa/Tuhan. Tuhan/Siwa yang selalu berhubungan dengan atman/roh akan menyinari tubuh kita melalui Antahkarana. Antahkarana adalah jalur sinar suci Siwa/Tuhan yang mengalir ke tubuh manusia.

Antahkarana dapat dibesarkan dengan jalan membuka inti cakra Sahasrara (cakra Mahkota) melalui upacara ritual yaitu : pawintenan dan dapat dibantu oleh seorang guru spiritual tertentu.

Antahkarana ini berupa sinar putih keunguan yang mengalir terus menerus ke inti cakra Sahasrara yang letaknya bersesuaian dengan ubun-ubun di atas kepala kita. Pada kebanyakan orang umum antahkarana ini hanya setebal rambut, namun khusus bagi masyarakat Hindu umum/awam di Bali Antahkarana ini sebesar tusuk gigi sampai sebesar lidi. Hal ini disebabkan oleh seringnya masyarakat bali mengadakan upacara yadnya.

Tetapi dalam pengamatan waskita, besar kecilnya sinar Antahkarana tergantung seberapa dekat hubungan orang tersebut terhadap Tuhan/Siwa itu. Kenapa orang yang melakukan upacara yadnya ataupun ritual khusus di Bali mampu untuk memperbesar jalur suci Antahkarana, karena ritual maupun upacara yadnya di Bali secara tidak disadari sama halnya kita melakukan meditasi dan yoga.

Yadnya adalah shrada bhakti yang tulus iklas. Jadi kalau setiap manusia sudah tulus hatinya dalam melakukan yadnya tersebut maka tenanglah jiwa bhatinnya. Dan dalam bermeditasi dan yoga kita harus memusatkan pikiran kita pada satu tujuan, agar pikiran kita mencapai ketenangan, bila mana pikiran sudah mencapai ketenangan maka jiwa bhatin secara otomatis akan ikut tenang. Jadi dengan itu untuk mengembangkan Antahkarana ini dapat dilakukan dengan menyeimbangkan antara meditasi/sembahyang dan berbakti secara sungguh-sungguh berdasarkan hati yang tulus ikhlas.





Cakra

Cakra berarti perputaran energi atau pusat aliran energi dalam bentuk roda/cakram. Berputarnya roda energi menimbulkan pusaran energi, pusaran energi yang terbentuk akan di alirkan ke alat-alat organ dalam pada tubuh fisik kita melalui nadi yang sangat halus (meridian). Aliran energi ini bertanggung jawab atas kerja dan fungsi organ dalam di dalam tubuh fisik. Diamati secara kewaskitaan pada tubuh etheris kita, terdapat cekungan seperti sebuah terompet dimana didalam intinya terdapat bulatan sinar menyerupai matahari/bulan kecil yang memancarkan sinar dengan jumlah berkas sinar yang berbeda-beda. Bulatan sinar inilah yang dikenal dengan Cakra.

Dalam inti cakra terdapat jalinan simpul yang menyerupai anyaman. Anyaman/inti cakra ini berhubungan erat dengan cakra-cakra lainnya, melalui nadi-nadi atau jalur meridian (tempat mengalirnya prana). Dari beberapa cakra ada cakra-cakra yang akar simpulnya berhubungan langsung dengan nadi utama (Sushumna nadi) yang terletak di rongga tulang punggung tubuh fisik yang diapit oleh dua nadi lain yaitu Ida (terletak sebelah kiri, dingin, sifat chandra/bulan) dan Pinggala (terletak di sebelah kanan, panas, sifat surya/matahari). Ketiga pokok nadi ini adalah sangat berperan dalam olah spiritual. Pencapaian-pencapaian kebangkitan spiritual adalah mengandalkan tiga nadi tersebut. Demikian pula kebangkitan Kundalini adalah memanfaatkan tiga nadi ini untuk mengolah prana dengan berbagai teknik meditasi.

Sebelum meningkatnya seseoarng dalam pencapaian tertentu dalam spiritualnya maka para Siswa Rohani hendaklah paham cara-cara mengembangkan cakra-cakra terutama cakra inti dan cakra pendukung yang terhubung kepada setiap cakra inti. Di dalam lapisan tubuh terdapat 365 cakra yang terhubung ke cakra-cakra inti. Manusia mempunyai 7 cakra inti dan 7 cakra di luar tubuh.

Tujuh cakra inti tersebut adalah :

1. Cakra Muladhara (dasar)
2. Cakra Svadhistana (sex)
3. Cakra Manipura (pusar)
4. Cakra Anahata (jantung)
5. Cakra Wisudha (tenggorakan)
6. Cakra Ajna (mata ketiga)
7. Cakra Sahasrara (mahkota)

1. Cakra Muladhara (cakra dasar)

Cakra ini letaknya di ujung bawah tulang punggung/ekor dengan warna kemerah-merahan dengan 4 berkas sinar/daun. Bagian tengahnya terdapat warna sinar oranye. Semakin ke dalam terdapat sedikit bulatan sinar kuning. Disinilah bersetananya dewa Brahma dengan saktinya Dewi Saraswati serta bersemayamnya kekuatan suci Ibu Dewi Kundalini yang berwujud ular emas bermahkota raja melilit lingga Swayambu Siwa dengan tiga setengah lilitan utama.

Pengetahuan tentang cakra ini sangatlah penting mengingat cakra Muladhara merupakan pondasi yang perlu dikokohkan sebelum menuju ketingkatan spiritual yang lebih tinggi. Bila pondasi rapuh menyebabkan Anda terhalang di tengah jalan.

Cakra muladhara dipengaruhi dari unsur-unsur zat padat (pertiwi), dimana unsur ini berhubungan erat dengan: kebugaran tubuh fisik, hal-hal yang berhubungan dengan materi, perkembangbiakan, kreatifitas dan pertahanan diri.

Seseorang yang ingin tetap sehat, ingin punya anak dan menginginkan kekayaan materi yang berlandaskan spiritual hendaklah sering melakukan latihan meditasi untuk mengembangkan cakra dasar ini. Kekayaan bukanlah hal yang dilarang dalam spiritual. Orang yang kaya harta dan berlandaskan pada ajaran dharma adalah orang-orang yang memanfaatkan hartanya untuk diri sendiri dan peningkatan umat lain. Untuk menjaga agar tetap kaya maka tetaplah sebagai pelaku spiritual dan menjaga dengan baik dan meningkatkan diri mengembangkan cakra-cakra lainnya sehingga berbagai kemuliaan akan dapat dinikmati di alam skala dan niskala nantinya.

2. Cakra Svadhistana (cakra sex)

Cakra swadhistana letaknya bersesuaian dengan daerah kemaluan yang memancarkan 6 berkas sinar/helai daun berwarna oranye (jingga). Mandalanya berbentuk bulan sabit sebagai lambang air. Di cakra ini berstanannya dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Laksmi/Sri.

Sifat air adalah yang mempengaruhi cakra svadhistana yang mengontrol segala macam nafsu dan emosi. Cakra ini adalah tingkatan yang lebih rendah dari cakra wisudha (cakra tenggorokan) yang menyebabkan tingkah laku yang kasar, hilangnya akal sehat, rasa kurang peduli, kurang percaya pada diri sendiri, kecemburuan dan keserakahan serta kemandulan.

Bilamana bermeditasi pada cakra svadhistana serta memahami kesadarannya niscaya akan mempunyai sikap pengontralan diri yang tinggi terhadap sifat-sifat negatif tersebut di atas, daya ingat semakin baik dan daya kecappun semakin baik. Daya kecap tinggi adalah termasuk intuisi yang tajam. Seorang intelektual yang berwawasan tinggi serta dipenuhi kebajikan akan tercipta dari orang-orang yang sudah berkembang cakra sexnya. Berbagai macam kemuliaan yang berhubungan dengan kemakmuran akan dapat dicapainya.

3. Cakra Manipura (cakra pusar)

Cakra manipura disebut pula cakra pusat pemrosesan prana. Akar-akar cakra ini menyebar hampir keselurah cakra utama/inti. Cakra manipura letaknya bersesuaian dengan cekungan pusar pada tubuh fisik. Bila kita makan, makanan ini diproses di daerah perut. Hasil pemrosesan yang bersifat energi halus disebarluaskan melalui nadi-nadi yang berpusat di cakra manipura. Proses pembakaran di perut yang bersifat lebih kasar digunakan untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh fisik.

Cakra manipura terdiri dari 10 berkas sinar/helai daun berwarna kehijauan pada bagian tepinya dan semakin ke tengah warna kekuningan serta pada inti cakra adalah warna kemerahan. Dewa yang berstana adalah dewa Wisnu dengan saktinya.

Cakra manipura bersifat api di mana hawa panasnya selalu menuju ke atas. Cakra manipura lebih banyak mempengaruhi sistem pencernaan tubuh fisik dengan mengendalikan usus-usus di dalam perut. Lebih kurang tiga jari di bawah cakra manipura ada yang disebut dengan Tantien yang berkaitan erat dengan cakra manipura dalam proses meningkatkan tenaga dalam dan membangkitkan unsur api serta listrik dalam tubuh manusia. Tantien adalah pusat dari pengolahan gas/ether menjadi unsur api.

Bermeditasi pada cakra ini maka manusia akan mengerti tentang berbagai pengaruh atau pengetahuan astral, menguasai tenaga dalam dan menguasai sifat dari unsur: api, panas, cahaya/sinar dan listrik. Dengan unsur api/cahaya (teja) segala emosional bersifat: ketidakpuasan, kesedihan, kejengkelan, kemarahan, putus asa, stres, merasa menderita dan berbagai penyakit berkaitan dengan pikiran dapat dihancurkan yang pada akhirnya membawa kita pada kebahagiaan yang sempurna disamping dapat mengerti jalan menuju kematian.

Ilmu-ilmu yang tergolong kanuragan atau kewisesaan juga berupaya untuk mengembangkan cakra manipura. Telah banyak ditunjukkan oleh praktisi dari banyak aliran yang mampu membuat bola lampu menyala. Di Bali, dari pengamatan Pinisepuh, Cokorda dari Puri Kesiman telah menunjukkan kemampuannya menguasai unsur listrik dengan memanfaatkan petir untuk melakukan hubungan telepon kepada salah satu reporter tv swasta. Hp berdering namun tidak ada nomer hp muncul di layar dan mereka berkomunikasi. Juga dengan penguasaan unsur api yang baik manusia bisa mengendalikan hujan seperti membuat hujan dan menghentikan hujan.

Pada tingkatan yang sudah tinggi, latihan dari membangkitkan cakra manipura akan menimbulkan sensasi angin, bahkan mengundang hujan atau terkadang petir di siang bolong. Sesama manusia waskita atau wikan akan saling memahami kejadian alam seperti ini. Bagi pemula, perlu bimbingan seorang guru yang paham untuk meditasi cakra manipura sebab pada pembangkitan unsur api, manusia berhubungan dengan energi planet-planet dan apabila berlatih pada saat mendung sangatlah berbahaya. Mendung sering membawa listrik yang besar dan seandainya kebangkitan sedang terjadi pada siswa tanpa disadari, listrik statis pada tubuh pada saat latihan akan memancing listrik dari mendung. Jadi bahayanya adalah disambar petir.

4. Cakra Anahata (cakra jantung)

Cakra anahata memiliki 12 berkas sinar/helai daun dengan warna tidak selalu sama pada setiap orang. Warna cakra ini lebih dominan dipengaruhi oleh sifat-sifat dasar seseorang, dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan spiritualnya.

Cakra anahata berhubungan erat dengan cakra sahasrara (cakra mahkota), karena cakra ini merupakan tempat terakhirnya jalur antahkarana. Jika diamati secara waskita sifat-sifat seseorang bersesuaian dengan tingkat frekwensi dari warna-warna tersebut yang menyimbolkan arti seperti:

1. Merah muda/pink simbol dari: cinta kasih
2. Hijau simbol dari: pelindung, penyejuk
3. Biru simbol dari: tertutup
4. Kuning/putih simbol dari: kesucian
5. Keemasan simbol dari: luhur atau keagungan
6. Ungu simbol dari: spiritual tinggi
7. Merah menyala simbol dari: semangat, emosional atau marah.

Cakra ini merupakan cakra yang amat penting seperti halnya jantung pada tubuh fisik. Dimana cakra anahata merupakan pusat pemerosesan prana dari cakra-cakra di bawahnya untuk dibawa ke cakra yang lebih tinggi dan sebaliknya.

Cakra sahasrara memberi ide, selanjutnya cakra soma/cakra-cakra yang ada di telapak tangan memikirkan dan diputuskan oleh cakra ajna/cakra mata ketiga. Setelah memperoleh hasil dari keputusan apakah itu baik/bener/jelek/salah, diteruskan ke cakra anahata. Cakra anahata menimbang dengan tingkatan emosi yang lebih halus kemudian diteruskan atau tidak. Bila hasil keputusan cakra ajna diteruskan ke tingkat cakra bawah oleh cakra anahata maka terjadilah gerak tubuh fisik sesuai keputusan cakra ajna.

Cakra anahata ada dua buah, terletak di daerah depan (daerah dada) dan belakang dada berdekatan dengan organ jantung pada tubuh fisik manusia. Cakra anahata depan lebih banyak bertugas menjaga keseimbangan kerja dari jantung tubuh fisik dan kelenjar tyumus. Cakra anahata belakang mengontrol dan memberi energi pada paru-paru, juga jantung fisik dan kelenjar tyumus.

Pada cakra anahata berstana dewa Rudra/Iswara dengan saktinya yang bersifat seperti udara. Manfaat bermeditasi pada cakra anahata dan menguasai rahasianya akan memiliki kemampuan: mendengar gema/suara batin yang tepat, mendengar suara hati, niscaya orang ini juga mampu mengontrol sifat-sifat dari udara, menyadari atau merasakan dengan batin keadaan orang lain apakah dia sedih/senang, baik/buruk serta merasakan kehadiran mahluk yang bersifat halus (gaib), melihat sosok gaib dengan mata batin, berkemampuan meneropong/melihat jarak jauh dengan kemampuan batin.

Kemampuan lain dari berkembangnya cakra anahata adalah: mampu berkomunikasi dengan mahluk gaib, bisa menangkap/mendengarkan dengan batin petunjuk/pawisik dari sosok gaib yang bersifat lebih tinggi/dewata, dengan jnana/pemusatan pikiran yang baik maka setiap pikiran menjadi terwujud sebagai suara batin yang mana memungkinkan komunikasi menjadi dua arah atau disamping bisa mendengar suara batin juga bisa mengeluarkan suara batin. Kemampuan mewujudkan suara batin diperlukan saat melakukan pemujaan dan permohonan kepada Tuhan. Tuhan bersifat maha mengetahui akan tetapi kesadaran manusia yang memupuk dan meningkatkan cakra anahata adalah manusia-manusia yang dimuliakan dan diangkat derajatnya baik di skala maupun niskala.

Perasaan kasih sayang semakin tumbuh, kepercayaan terhadap Tuhan semakin mantap dan dapat mengatasi masalah dengan tenang. Sidharta Gautama dikenal mempunyai kasih sayang yang tinggi sehingga menjadi Budha. Kasih sayang yang tinggi adalah kesaktian yang paling tinggi dari seluruh kesaktian yang ada.

5. Cakra Wisudha (tenggorakan)

Cakra wisudha letaknya di daerah tenggorokan depan pada tubuh fisik. Cakra ini mempunyai 16 berkas sinar/helai daun dengan warna dominan biru muda pada luarnya dan pada inti cakra terdapat warna putih bening. Unsur-unsur yang terdapat atau mempengaruhi adalah akasa (ether). Pada cakra ini berstanalah hyang Sadasiwa.

Cakra wisudha/tenggorokan merupakan pengontrolan tingkat emosi yang lebih tinggi. Cakra ini berhubungan erat dengan cakra svadhistana/sex. Sifat-sifat yang dimiliki sama dengan yang berpengaruh dari cakra svadhistana tetapi dalam tingkatan yang lebih halus. Misalnya sifat kasar yang ditunjukkan tidak lagi dalam bentuk fisik yang vulgar. Tetapi dengan cara-cara taktik/politik yang licik dan dengan kesan intelektual. Dengan adanya hubungan ini gangguan cakra wisudha bisa mempengaruhi prilaku seperti yang disebutkan pada cakra svadhistana termasuk juga bisa menyebabkan kemandulan.

Apabila cakra ini aktif dan berkembang dan simpul-simpulnya terbuka maka kita menjadi waskita pendengaran yaitu mendengar suara/swara yang bersifat halus (gaib). Mendengar jarak jauh. Mendengar di sini bukan lagi mendengar dalam batin tetapi mendengar dengan organ fisik layaknya mendengar suara dari kehidupan skala.

6. Cakra Ajna (mata ketiga)

Bagi mereka yang sudah lama menekuni hal-hal spiritual tentu mengenal kegunaan cakra ajna/mata ketiga. Karena keaktifan cakra ajna sangat dibutuhkan yaitu untuk pewaskitaan/penglihatan/tembus pandang.

Berkembangnya cakra ajna maka manusia akan bisa melihat tembus pandang/meneropong ke masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Manusia yang demikian disebut sebagai waskita bahkan wikan.
Dengan kewaskitaan manusia dapat melihat mahluk-mahluk halus, energi halus, cakra-cakra beserta warna-warnanya, melihat aura dan bahkan para dewata sekalipun. Keaktifan atau berkembangnya cakra ajna memungkinkan kita memvisualisasikan sesuatu lebih jelas termasuk dapat menghipnotis dengan cara-cara yang halus.

Letak cakra ajna adalah di antara kedua alis dengan 2 berkas sinar/lembar helai daun dengan warna yang berbeda. Sebelah daun berwarna keunguan dan sebelah kuning keputihan di inti cakra terdapat lingkaran dengan warna putih cemerlang (bagai sinar matahari).

Dewa yang berstana adalah hyang Paramasiwa. Cakra ajna dikenal juga sebagai mata ketiga/mata lahir. Mata lahir dimaksud adalah mata non fisik yang berkemampuan layaknya mata fisik tetapi hanya melihat mahluk gaib/halus bahkan para dewata. Adalah kemampuan melihat yang lebih tinggi dari kemampuan melihat dengan mata batin sebab akan melihat detail dari suatu sosok gaib. Tetapi mata lahir ini tidak bisa meneropong jarak jauh.

Fungsi dari cakra ajna adalah mengontrol seluruh cakra-cakra di bawahnya. Berkembangnya cakra ajna adalah terjadi sesuai dengan perkembangan dari cakra-cakra di bawahnya.

7. Cakra Sahasrara (mahkota)

Cakra ini berada di luar tubuh yaitu kira-kira sejengkal tangan di atas kepala dengan akarnya pada ubun-ubun. Dengan seribu berkas sinar/helai daun berwarna-warni kemilauan, semua warna yang terlihat sangat mengagumkan. Tidak ada kelihatan warna dominan kecuali beberapa lembar helai daun di tengahnya, yang mana keadaannya tergantung dari tingkat spiritual seseorang. Semakin tinggi spiritual seseorang warna ini menjadi kuning keemasan. Biasanya warna daun ini sesuai dengan warna cakra anahata.

Pada inti cakra terdapat tangkai seperti bunga teratai. Tangkai tersebut berhubungan dengan puncak kepala yang sering disebut dengan antahkarana atau tali spiritual. Antahkarana adalah ukuran yang sangat penting guna mengetahui tingkat kerohanian seseorang. Jalur antahkarana merupakan jalur turunnya energi yang maha suci.

Diamati secara waskita energi yang bisa memasuki antahkarana hanya energi yang maha suci (roh-roh yang amat suci). Bila cakra sahasrara sudah berkembang akan menuntun manusia lebih mendalami hal-hal yang bersifat kerohanian dan selalu ingin mengetahui ajaran-ajaran kesucian yang berhubungan dengan ke-Tuhanan, ingin memahami sifat-sifat dengan kesadaran somia/buddhies yang lebih tinggi, segala tindak tanduknya didasarkan atas ajaran suci (weda/pengetahuan suci).

Kebangkitan kundalini yang mencapai cakra sahasrara akan menuntun seseorang dapat menilai dirinya sendiri dan menilai orang lain dengan bijaksana, tahu kebenaran yang sesungguhnya. Bertemunya Kundalini sakti dengan Siwa pada cakra sahsrara memungkinkan seseorang mencapai moksa/hidup abadi/bebas penderitaan (bebas keduniawian dalam arti luas).

====================================================================


Meditasi Brahma Chakra adalah salah satu rahasia Leluhur mencapai Moksha yang saat ini buku sedang saya tulis. Ilmu rahasia ini adalah sastra pusaka Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan yang dinamakan Ilmu Sangkan Paraning Dumadi.. Sastra besar ini diajarkan kepada saya oleh Pinisepuh I Gusti Agung Yudhistira sampai tahapan mampu berkomunikasi dengan Hyang Maha Guru Mpu Kuturan, yaitu pada tahapan Kasidhian Dewata.

Atas Restu Pinisepuh dan Hyang Maha Guru Mpu Kuturan, saya mengajarkan dasar utama Brahma Chakra yaitu pembangkitan jalur sinar Antahkarana dengan membuka inti chakra Sahasrara (chakra mahkota). Dalam meditasi dasar utama ini, disalurkan prana yang besar ke inti chakra dibarengi dengan Restu Guru.

Pembuktian yang bisa dilakukan adalah menstransfer energi prana menembus belasan orang yang sengaja disuruh bercanda agar konsentrasi penyalur energi buyar guna menghindari kekuatan pikiran. Sebab manusia dengan Antahkarana yang berkembang juga otomatis mempunyai kekuatan pikiran yang lebih baik dari orang awam. Pada tahap sensasi tertentu penyalur energi memerintahkan si anak menjatuhkan bola lampu pijar. Kalau bola lampu tidak pecah, seorang murid telah berhasil dalam meditasi dasar.

Dengan meditasi Brahma Chakra dan bimbingan guru yang paham, dibutuhkan hanya 4 jam untuk mengembangkan Antahkarana hampir sebesar kelingking. Normalnya memerlukan waktu 15-20 tahun seperti pengalaman saya.

Manfaat utama Antahkarana berkembang adalah:


1.            Mampu menyerap energi prana lebih banyak.
2.            Bisa disalurkan untuk membantu proses penyembuhan orang sakit.
3.            Membantu proses pembersihan 7 chakrainti dan tiga nadi utama.
4.            Sakit black magic otomatis sembuh kalau latihan berhasil.
5.            Semakin besar Antahkarana semakin sehat manusianya.
6.            Berkembangnya chakra akan meningkatkan potensi diri, dll.

Untuk mempertahankan besar jalur Antahkarana, spiritualis harus melakukan:

  1.            Meditasi dasar Brahma Cakra
2.            Menyerap dan menyalurkan prana (di Puri kebetulan kami menerima pasien medis  
         non medis sehingga murid berkesempatan belajar sebagai terapis atau penyembuh
         energi prana).
3.            Berlatih berbagai yoga, berbagai meditasi dan tai chi untuk menyempurnakan jalur-
         jalur prana dalam tubuh, dll.
Untuk lebih membesarkan jalur Antahkarana, ada tahapan-tahapan meditasi Brahma Chakra lainnya.


Kunci utama peningkatan spiritual

Spiritualis pemula melakukan meditasi pemusatan pikiran kepada mata ketiga. Tidak salah, tetapi akan memakan waktu tahunan untuk mendapat efek peningkatan dari meditasi. Kunci spiritual yang utama adalah sehat fisik dan mental. Capailah kesehatan fisik dan mental terlebih dahulu agar peningkatan lebih cepat tercapai.

Manusia makan dan minum adalah untuk memenuhi zat nutrisi penopang kehidupan. Semua zat yang masuk ke dalam tubuh diolah sistem tubuh dibantu oleh prana yang diserap. Kelebihan prana yang dipakai untuk mengolah zat nutrisi diperuntukkan untuk menyembuhkan organ yang sakit. Kalau organ fisik dan non fisik sudah sehat, sisa prana diperuntukkan untuk membersihkan cakra-chakra tubuh.

Meditasi Brahma Chakra adalah mengandalkan asupan energi prana yang besar. Jalur Antahkarana yang besar adalah kunci menyerap energi prana yang besar. Jalur Antahkarana ini terletak pada nadi Sushumna yang berujung di tulang ekor. Di ujung tulang ekor adalah letak chakra Dasar. Berkembangnya chakra Dasar karena asupan energi prana yang besar akan membangkitkan nadi Ida dan Pinggala.



Kundalini

Bicara Kundalini adalah bicara mengenai pencapaian spirtual yang tertinggi. Sebab apabila terjadi kebangkitan Kundalini pada seseorang bisa dikatakan sudah mencapai moksha. Dasar pembangkitan Kundalini adalah mengandalkan nadi utama Ida, Shusumna dan Pinggala.

Meditasi Brahma Chakra adalah menyiapkan jalur-jalur Kundalini yang pertama dengan berkembangnya Antahkarana dan kemudian chakra Dasar. Dengan asupan energi prana yang besar ke inti chakra Dasar akan hiduplah api Brahma Chakra. Dan ini terjadi apabila empat kelopak chakra Dasar berkembang sempurna. Pengembangan yang sempurna ini memicu hidupnya nadi Ida dan pinggala. Nadi Ida dan Pinggala muncul dari berkembangnya chakra Dasar. Muncul dari kelopak daun chakra Dasar. Ketiga nadi bekerja dengan baik akan mempercepat pembersihan chakra inti yang lain.

Sastra mengatakan bahwa jumlah chakra adalah sebanyak 366, tetapi Pinisepuh mengatakan bahwa tidak ada yang bisa tahu jumlah chakra seluruhnya. Biarlah itu menjadi misteri sebab yang terpenting pada saatnya apabila sudah berhasil menembus kebangkitan Kundalini, manusia menjadi paham.

Saya telah ditunjukkan saat melatih chakra Dasar. Manakala mekar, pada setiap kelopaknya bermunculan chakra-chakra dan dari sana muncul seperti asap dupa dengan warna merah dan biru, bergerak mengitari Shusumna warnanya menjadi keunguan. Gerakannya seperti gambar DNA yang berputar dari ujung chakra dasar sampai chakra Mahkota. Tetapi gerakan melingkar bolak balik ini tidak melewati chakra Sex dan shakra Tenggorokan. Kemudian Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan memberitahukan bahwa kedua sinar itulah nadi Ida dan Pinggala.

Nadi Ida dan Pinggala mempercepat proses pembersihan semua jalur yang diperlukan untuk pembersihan jalur Kundalini dari chakra Dasar sampai chakra Mahkota. Penjelasan rinci, metode latihan, berbagai sensasi, bukti dan pengalaman akan dijelaskan di kitab Ilmu Sangkan Paraning Dumadi.

Surya Sudhanalaya

Untuk mempercepat proses pembersihan, penyembuhan dan membantu menyerap energi prana yang besar atau maksimal, Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan menganugrahkan simbol semesta Surya Sudhanalaya melalui Pinisepuh.

Pelaku meditasi yang telah mencapai tahapan tertentu akan memancarkan energi. Energi tersebut dapat terdeteksi oleh pelaku ilmu hitam dan mahluk gaib negatif. Pelaku ilmu hitam dari aji ugig terkadang melakukan tes kepada orang-orang yang memancarkan energi. Sedangkan mahluk gaib akan merasa terganggu dengan pancaran energi positif sehingga terkadang mereka menjadi marah dan mengganggu.

Simbol Sudhanalaya mampu melindungi kedua gangguan seperti tersebut di atas dan menjadi sangat berguna bagi pelaku spiritual yang pencapaiannya belum mampu melindungi diri sendiri.

Tetapi bagi pelaku energi negatif sangat tidak disarankan memakai simbol ini sebab aji-ajian ugig yang tergolong; teluh, nesti dan terangjana tidak akan dapat bekerja karena semua unsur negatif diblokir oleh daya kerja Surya Sudhanalaya.



=========================================================================


CUBA LIHAT DAN KAJI LAMBANG-LAMBANG REIKI DI BAWAH
















DAN LIHAT PULA LAMBANG LAMBANG LANGIT DAN BUMI (ASMA AL-HUSNA) DAN LAMBANG YG DI PAKAI KAUM SUFI YANG MELAMBANGKAN KUN ( KHATAMUN NUBUWWAH)


(ALLAH SWT TELAH ILHAMKAN KEPADAKU KETIKA SEDANG SOLAT DI MANA KETIKA ITU AKU SEDANG MENCARI-LAMBANG/LOGO UNTUK AKADEMIKU IAITU LAMBANG YIN & YANG ADALAH LAMBANG 99 NAMANYA - DENGAN NAMA-NAMANYA YANG AGUNG INI, NABI ADAM DI BEKALI UNTUK MENTADBIR BUMI SEBAGAI KHALIFAH.






DAN SESUNGGUHNYA PADA FIRASATKU, AGAMA HINDU DAN BUDHA ADALAH DI ASASKAN OLEH SEORANG NABI YANG MENDAPAT WAHYU JAUH SEBELUM NABI MUHAMMAD, MEMBAWA AGAMA HANIF (TAUHID) DAN AJARAN TAUHID DI MANA BELUM ADA KEWAJIPAN SYARIAT.
NAMUN AJARAN INI TELAH DI SELEWENGKAN SETELAH NABI TERSEBUT WAFAT SEPERTIMANA AGAMA YAHUDI DAN NASRANI.

BUKTINYA AMALAN YOGA DAN REIKI ADA BERSAMAAN DENGAN AMALAN TITIK 9 BAWAAN SAYA (JUGA DIKENALI SEBAGAI SYAHADAT TOKKU PALOH) DIMANA PENEKANAN KEPADA TAUHID DAN MENGENAL DIRI DAN TUHAN ADALAH MATLAMATNYA.

NAMUN BILAMANA SESEORANG ISLAM MEMPELAJARI MALAH MEYAKINI SEKALI AMALAN ITU (YOGA DAN REIKI), MAKA "TERMASUKLAH MEREKA KE DALAM KAUM ITU TANPA DI SEDARI". INI ADALAH KERANA SETELAH KEDATANGAN AGAMA ISLAM, AGAMA HANIF(LANGIT) YANG LAIN AKAN TERMANSUH DAN WAJIB MEREKA MEMELUK ISLAM UNTUK MEMELIHARA TAUHUD MEREKA.

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete