AKADEMI SILAT SENI GERAK MAKRIFAT (ILMU KEBATINAN)

AKADEMI SILAT SENI GERAK MAKRIFAT


ILMU PERSILATAN DAN PERUBATAN (KEROHANIAN) WARISAN SYEIKH PENDITA MAHAGURU ADI PUTRA, SUNAN KALIJAGA DAN TOKKU PALOH

ILMU KEROHANIAN DALAM KATEGORI ILMU GHAIB ( SILAT BATIN SUNAN KALIJAGA@GERAK FAQIR) & ILMU SYAHADAH (SYAHADAT TOKKU PALOH@TITIK 9)

Thursday, June 27, 2019

22/12/2018 - MUKTAMAR TAHUNAN GFSK




Jemaah dari Wilayah Selatan (Johor )



( Puteri-Puteri UIA )


Jemaah dari Sarawak




Pendaftaran peserta




Penyampaian Cenderahati








Hidangan makan tengahari












Antara jemaah yang dapat menghadiri Muktamar Tahunan kali pertama 2018

Wednesday, September 26, 2018

MAJLIS SIMFONI KASIH GFSK - GUNUNG LEDANG SEPT 2018

Pada 15 & 16 September, 2018 Perguruan Gerak Faqir Sunan Kalijaga telah mengadakan program silaturrahim dan majlis penyampaian sijil untuk ahli-ahli Perguruan Gerak Faqir Sunan Kalijaga di bawah Akademi Gerak Maklrifat bertempat di Gunung Ledang Resort selama 2 hari .

Program berlangsung dengan jayanya di mana seramai 30 ahli dapat menyertai Majlis ini dan di sertai dengan ahli keluarga yang berjumlah keseluruhan hampir 50 orang.

Aturcara program :
Hari pertama (Sabtu)
2.00  pm       - pendaftaran peserta
2.30  pm       - mendapatkan kunci bilik peserta
4.00  pm       - Pertandingan Memanah di kalangan peserta lelaki & wanita
8.00  pm       - Makan Malam di luar Resort
9.30  pm       - Tazkirah oleh Guru Utama Akademi Gerak Makrifat
10.30pm       - Latihan Gerak Silat di gelanggang

Hari Kedua (Ahad)
7.30  am       - Sarapan pagi di Dewan Kebayan
9.00  am       - Majlis Penyampaian Hadiah Pemenang Acara Memanah & Sijil Keahlian GFSK
11.00am       - Acara bebas & bersurai

 Pemandangan dari hadapan Gunung Ledang Resort




Pendaftaran peserta SIMFONI KASIH GFSK 2018





Acara Pertandingan Memanah Lelaki


Acara Pertandingan Memanah Wanita



Makan Malam di luar Resort


Sesi Penyucian Jiwa - tazkirah oleh Guru Utama



Sesi Latihan Silat di Gelanggang




Sarapan pagi ahad di Dewan Kebayan



Majlis bermula di Dewan Latihan dengan ucapan dan perasmian majlis oleh Guru Utama


Hadiah - hadiah


Pemenang-pemenang Acara Memanah Lelaki


Penyampaian sijil-sjil keahlian GFSK




Cenderahati untuk tuan guru dari Team Wilayah Selatan, penganjur program




Ahli-ahli jemaah wanita


Ahli-ahli jemaah lelaki



Bergambar kenangan selepas majlis bersurai

KENANGAN TERINDAH DI ABADI DI KAKI GUNUNG DARI KETURUNAN DATOK LAKSAMANA HANG TUAH & PUTERI GUNUNG LEDANG









Sunday, July 15, 2018

22/4/2018 - RIADAH DI RESORT LAMAN IBU, JANDA BAIK, PAHANG.


Minum petang sambil menunggu jemaah yang belum sampai.

 Latihan memanah merupakan aktiviti wajib GFSK

Menu utama makan malam adalah kambing bakar yang siap di perap perasanya.

Latihan Gerak Silat di tunjukkan seorang demi seorang oleh pelajar yang dah khatam Ilmu GFSK.

Sarapan pagi

Penginapan yang di sediakan.

Tempat makan yang di sediakan oleh pihak Resort.

Kawasan parking yg luas dan selesa.

 Pemandangan di hadapan Resort.


Sebahagian dari peserta jemaah GFSK yang sempat bergambar sebelum pulang.

Antara jemaah GFSK yang telah hampir menguasai ilmu GSFK dan telah mempraktikkannya ...

 Antara tenaga pengelola aktiviti kali ini.


Hidangan makan malam ....

Sesi rawatan untuk jemaah yang sakit.

Sarapan pagi...


Sesi pembelajaran urut tradisional...

Sesi tazkirah dan perbincangan pagi ....Talbis Iblis.

Sesi soal jawab...

 Antara menu hidangan pagi....

Acara bebas....



Layanan orang kampung yang ramah tamah...










Tuesday, October 24, 2017

Kasyafnya Para Wali


Kasyaf adalah terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal gaib….
Tersebutlah syaikh Abdul Gani Harahap. Tokoh ini hidup jauh sebelum masa revolusi (diperkirakan sekitar 1818). Dia menjadi legenda di kampung halamannya, Baringin, Sipirok, Tapanuli Selatan. Dia juga dikenal sebagai penyebar agama Islam di Baringin. Waliyullah yang dicitrakan sebagai seorang yang gagah dengan kuda putihnya ini menyampaikan Islam hingga ke wilayah Tanjung Balai, Asahan. Tak mengherankan bila murid dan pengikutnya bertebaran di sepanjang Tapanuli hingga Asahan.
Cerita tentang kewaliannya pun mengisahkan, bahwa Syaikh Abdul Gani Harahap memiliki sejumlah karamah. Salah satunya yang hingga kini dikisahkan di kampung itu adalah kisah saat dia berpangkas. Di saat rambutnya yang baru setengah tercukur, dia mendadak mengucapkan, “Terbakar Makkah!”
Lalu, setelah menyuruh tukang pangkas menghentikan mencukur, Tuan Syekh seketika muksa. Beberapa jam kemudian, raganya kembali muncul di tempat pangkas rambut, untuk meneruskan cukurannya. Konon ketika hilang, Syekh Abdul Gani Harahap terbang ke Makkah untuk turut memadamkan api di sana. Dalam sekejap mata dia telah berada di Makkah.
Orang-orang yang beriman tak menampik terjadinya peristiwa yang di luar jangkauan nalar manusia itu, mengingat bahwa Allah adalah Dzat yang serba Maha. Tak seorang pun dapat mengukur kemahaan-Nya itu, termasuk dalam memberikan karunia kepada orang-orang pilihan-Nya.
Apa yang dialami Syekh Abdul Gani, dalam ajaran tasawuf, disebut kasyaf. Kasyaf adalah salah satu bentuk karamah yang dikaruniakan Allah kepada para kekasih­Nya. Kasyaf dapat diartikan terbuka, yakni terbukanya tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Kasyaf juga berarti Allah membukakan bagi seseorang untuk dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui apa yang hendak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dan diketahui oleh orang-orang biasa.
Bagi orang awam, apa yang dilakukan sang Syekh Abdul Gani adalah hal yang aneh dan misterius. Namun, apa yang diucapkannya, ternyata terbukti, dan diketahui belakangan hari. Makkah pada waktu itu memang pernah terbakar. Peristiwa yang tak masuk akal seperti ini pun, pernah terjadi pada diri sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab ra. Ketika itu, menjabat khalifah. Banyak sekali orang menjadi saksi mata. Pada waktu itu, Umar bin Khattab ra tengah melakukan.shalat. Ketika sedang berada di mimbar menyampaikan khutbahnya, tiba-tiba Umar berseru, “Hai, Sariah, hai tentaraku. itu, bukit itu, bukit itu!” Jamaah shalat Jumat geger. Ucapan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan Umar. Beberapa penilaian miring pun terucap dari mereka. Tetapi, Abdurrahman bin Auf salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, tidak mau gegabah. Dia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka, usai shalat, didatanginya Umar.
“Wahai Amirul mukminin, mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbahmu seraya pandanganmu menatap ke kejauhan?” Tanyanya.
Umar dengan tenang menjelaskan, “Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berteriak, “Bukit itu, bukit itu, bukit itu… ! ”
Setengah tidak percaya, Abdurrahman bin Auf mengerutkan kening, namun dia enggan untuk meneruskan pertanyaannya. Dia lebih memilih untuk mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar, sebab dia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi.
Akhimya, bukti pun datang tanpa dimintanya. Yaitu, manakala Sariah yang dikirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas luka-luka yang diderita oleh mereka. Tapi, mereka datang dengan membawa kemenangan. Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dahsyatnya peperangan yang mereka alami.
“Kami dikepung tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai arah. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat shalat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas,”Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Tiga kali seruan tersebut diulang-­ulang, hingga kami tahu maksudnya. Serta merta kami pun meluncur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni arah depan. Itulah awal kejayaan kami.
Mendengar cerita ini Abdurrahman bin Auf mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Dia berkata, “Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi itu. Sebab, dia dapat melihat sesuatu yang indra kita tidak mampu melacaknya.”
Selain kisah Sayyidina Umar dan Syekh Abdul Gani, malah banyak lagi cerita tentang mukasyafah atau kasyaf Misalnya saja, kisah Abah Anom saat bertemu Khalifah Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Amerika Serikat, Syekh Nadzim Haqqani.
Ketika itu, sekitar tiga tahun lalu, Syekh Nadzim Haqqani bertamu ke Suryalaya. Kunjungan itu dipandu oleh Ketua Dewan Tertinggi Jam’iyah Ahli Thariqah Al Mu`tabarah An-Nahdiliyah, Habib Luthfi bin Yahya Saat itu Syekh Nadzim mengaku mengenal.Abah Anom melalui ilham yang diperolehnya ketika memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Katanya, di tengah kehidupan dunia yang carut marut seperti sekarang masih ada seseorang di Timur yang sangat ikhlas. Siapakah dia? Setelah dirunut, petunjuk itu mengarah kepada seorang ulama sepuh, yang kini usianya baru saja melewati 90 tahun (dalam hitungan kalender Masehi) atau mendekati 100 tahun menurut kalender Hijriah. Setelah pertemuan yang mengharukan itu, terjadilah peristiwa yang sarat dengan bahasa isyarat.
Syaikh Nadzim Haqqani mengeluarkan sebuah peluit kecil. Dia minta agar Abah Anom meniupnya.
“Priiit…!”
Setelah itu gantian Syaikh Nadzim Haqqani, mungkin sebagai makmum meniup pluit tersebut, “Priiiitt… !”
Tak seorang yang tahu apa makna isyarat itu. “Saya juga tidak tahu. Tapi mungkin maksudnya sebagai ikrar bersama untuk tetap teguh berjalan di atas kebenaran Allah,” kata Kyai Zaenal, yang bertindak sebagai penerjemah.
Dalam pertemuan itu juga muncul sebuah isyarat yang luar biasa, yakni ketika Syekh Nadzim Haqqani, dalam Bahasa Inggris, berkata, “Sesungguhnya kami tidaklah memerlukan penerjermah. Sebab apa yang saya kemukakan sesungguhnya sudah dimengerti oleh Abah Anom, karena sebelumnya kami.. sudah berkomunikasi secara spiritual. Biar pun Abah tertunduk seperti itu, sebenamya beliau tidak tidur, tapi dapat mendengarkan dengan baik.”
Kasyaf atau mukasyafah adalah buah dari zuhud. Zuhud membawa kita melintas alam syahadah, nyata, dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakan istilah para sufi, zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah. Namun, sesungguhnya kasyaf bukanlah tujuan para sufi. “ilmu” ini merupakan akibat dari kondisi psikologis para sufi yang amat mencintai Allah SWT. Menurut para sufi, kasyaf adalah karunia Allah sebagai pemberian kepada hamba-Nya, dia tidak bisa diperoleh lewat usaha dan latihan.
Bagi para waliyullah, hal-hal kasyaf sebenamya telah dijanjikan Allah seperti yang termaktub dalam hadits Qudsi, yang artinya, “Orang yang mendekatkan diri kepada-Ku, mengerjakan yang fardhu dan yang sunnah, sehingga Aku cinta kepada mereka dan Aku menjadi penglihatan mereka.”
Kasyaf Para wali Allah ini ada beberapa macam. Pertama, kasyaf mata. Mata dapat melihat alam mawaraulmaddah atau disebut juga alam gaib. Mata dapat melihat perkara-­perkara yang tidak dapat dilihat manusia biasa seperti malaikat, jin, dan setan. Kasyaf inilah yang menjadikan orang seperti Sayyidina Umar bin Khattab ra, dapat melihat apa yang sedang terjadi pada Sariahnya (Pasukan), dan Syaikh Abdul Gani Harahap yang dapat melihat Makkah terbakar.
Kedua, kasyaf telinga, yang disebut juga hatif. Seseorang yang dianugerahi kasyaf semacam ini dapat mendengar suara­-suara gaib, tetapi tidak melihat wujudnya. Misalnya, suara jin, malaikat,.atau sesama waliyullah. Suara.itu adakalanya membawa berita gembira, adakalanya sebaliknya. Tujuannya ialah, Allah hendak menghibur orang yang mendapatkannya. Kalau itu berita gembira, sang waliyullah akan gembira. Dan kalau berita duka, juga akan mengembirakannya, karena dia tahu terlebih dahulu, sehingga bisa menyiapkan diri dalam menghadapi ujian tersebut.
Ketika, kasyaf mulut. Allah memberi kelebihan seseorang dari ucapannya, Seperti doanya makbul, atau apa yang dia ucapkan akan terjadi. Dengan ucapannya itu, sang waliyullah berdakwah, mengajar, dan memberi nasihat. Dan dengan ucapannya pula, dia dapat mengubah hati seseorang. Karamah seperti ini biasanya dikaruniakan,. kepada pemimpin dan para juru dakwah.
Keempat kasyaf akal. Seorang waliyullah mendapat berbagai macam ilmu tanpa harus belajar, membaca, dan sebagainya, ilmu ini disebut juga ilmu laduni.
Kelima, kasyaf hati, dinamakan juga firasat. Inilah “kasyaf” yang tertinggi di antara “kasyaf-kasyaf” yang disebutkan tadi. Biasanya dikaruniakan kepada pemimpin, itu pun tidak banyak, karena Allah mengaruniakan hanya kepada pemimpin yang sangat shalih, sabar dalam menanggung ujian yang begitu berat. Kasyaf hati ialah rasa hati atau gerakan hati yang tepat lagi benar. Dia juga dapat membaca hati atau pikiran seseorang.
Nabi bersabda, “Hendaklah kamu takut terhadap firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan pandangan Allah.” Apa yang dimaksudkan dengan firasat oleh Rasulullah SAW ini adalah kasyaf hati.
(Disarikan dari sumber terpilih)